Obat atau Racun

Masih ingat serial ‘Jewel In The Palace’ ?ceritanya tentang perjalanan hidup Jang Geum seorang koki istana di korea zaman dahulu yang kemudian jadi perawat/ tabib wanita.

salah satu adegan yang paling saya suka adalah ketika Jang Geum diuji oleh Profesor Shin (benar ya ejaannya?).  Pertanyaan ujiannya adalah: Tuliskan jenis racun sebanyak-banyaknya dan jenis obat sebanyak-banyaknya!. Maka ditulislah oleh Jang Geum banyak sekali jenis racun dan obat yang dihafalnya. hal yang tak sulit mengingat dia sangat jenius dan mempunyai kemampuan hafalan yang tinggi. Dia juga sudah banyak membaca buku kedokteran sebelumnya.

hasil ujiannya dia malah tidak lulus, orang yang paling sedikit hafalannya malah dapat nilai tertinggi.  si Jang Geum bingung, kenapa?

ternyata, Sang Profesor ingin mengingatkan si Jang Geum agar tidak sombong.  dengan kualitas IQnya yang tinggi, kemampuan hafalan yang hebat, dia lulus terbaik pada ujian sebelumnya.  tapi dia jadi sombong.   Dan masalah obat dan racun, tidak ada obat yang bisa dikatakan sebagai obat saja, dan begitu pula tidak ada racun yang bisa dikatakan sebagai jenis racun saja.  Yang dikatakan obat bisa menjadi racun pada saat lain. tergantung pemakaiannya, kasus pasiennya, dan banyak variabel lain.  Jang Geum yang paling banyak mengisi malah tidak lulus, sedang yang paling sedikit mengisi malah lulus.

Banyak sekali hikmah dalam kisah ini, terutama buat kita para praktisi kesehatan.

Jangan sombong, kesembuhan bukan dari kamu, tapi dari yang Allah Maha Menyembuhkan.

Obat dan racun batasnya bisa sangat tipis, tergantung pemakaiannya.  Contohnya:Paracetamol bukan cuma OBAT panas, dia bisa jadi RACUN bagi orang yang punya gangguan pada liver.

Jadi bukan cuma menghafal indikasi salah satu obat, tapi juga kontra indikasinya, efek sampingnya, apa yang harus diperhatikan.  Mau dipakai jadi obat atau jadi racun, kita yang nentukan.

Dan kemudian Si Jang Geum yang jenius itu belajar lagi.  Bagaimana dengan kita? Ayo belajar lagi,…

quote lain dari Prof Shin yang saya suka: “dokter hebat bukan dokter yang pandai tapi dokter yang besar (jiwanya)”…(agak lupa-lupa pasnya)…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: