PUYER? polemik atau politik?

Puyer? Polemik atau politik?

bagi saya ini cuma isu politik,yang tidak perlu dipolemikkan ke masyarakat.

3 minggu ini 3 hari sekali di setiap acara beritanya RCTI memberitakan tentang puyer. isinya tentang bahaya puyer. awalnya diberi judul bahaya puyer, dan kemudian diganti menjadi polemik puyer.  Dengan alasan tidak membuat masyarakat bingung. tapi toh, masyarakat sudah jadi bingung, opini publik sudah terbentuk, bahwa puyer memang bahaya.

terus, apa memang puyer perlu dipolemikkan?

ya, tapi TIDAK di media massa.  Ini adalah isu ilmiah, dan orang yang terlibat harusnya cukuplah dari kalangan ilmiah, bukan dari masyarakat awam.   Perbincangan ilmiah tidak pada tempatnya mengajak masyarakat awam, karena akan membuat kebingungan, polemik, dan kerusakan yang lebih besar.

Bahwa puyer memang ada bahayanya, dokter mana sih yang gak tahu? semuanya sudah diajarkan di kurikulum farmakologi, tapi toh kita diajarkan bagaimana agar manfaatnya didapat maksimal dengan resiko seminimal mungkin.  dalam semua tindakan kedokteran kita mendapat permasalahan yang sama, dan disitulah “seni” kita dalam memaksimalkan manfaat dan resiko seminim mungkin.  saya lulus tahun 2006, dan masih mendapat kurikulum membuat puyer.

kalau memang puyer akan dihapus, bukan dengan melempar isu ini ke media massa dan masyarakat awam sebagai konsumer. konsumer akan bingung, bisa-bisa kejadian orang awam menuntut dokter malprakktek karena diberi puyer

Para dokter dan praktisi kesehatan sebagai pelaku yang harus diajak diskusi, dengan jurnal, tulisan ilmiah, pertemuan ilmiah, perubahan kurikulum farmasi (tidak mengajarkan puyer lagi di kuliah).  Perkumpulan profesi IDI, IDAI, mengeluarkan rekomendasi.

Langkah-langkah seperti ini yang harus ditempuh, memang lama, tapi aman, tanpa gonjang-ganjing, tanpa masyarakat bingung.

Lalu, yang sekarang ini polemik atau politik?

Bagi saya POLITIK. Frekuensi penayangan yang sangat tinggi,biayanya jelas besar. Terus,  ini titipan siapa?siapa yang mendanai?siapa yang mendapat keuntungan?

–>Pabrikan obat, produsen syrup. ( cuma ini yang terpikir. ada tersangka lain?)

berkata dokter anti puyer: saat ini obat apa sih yang gak ada sediaan syrupnya? cuma 2, obat HIV dan …(saya lupa)

Lha, sekarang dokter anti puyer ini pernah turun ke puskesmas gak? coba cari sirup antihistamin, coba cari sirup anti alergi, dan beberapa obat dasar lain. ada gak?  kalau obat itu ada, berapa sih harga obat syrup? 20-30 rb an, itu yang standar. Kalau ngelarang kasih solusi dong.

juga dikatakan, penyakit anak itu sebagian besar sembuh sendiri, jadi sebenernya gak usah dikasih obat.  Pasien berkunjung seharusnya untuk konsultasi.

Pikir saya: Terus kalau pasiennya cm datang konsultasi, mending pasien banyak saya kumpulin semua untuk disuluh bersama-sama. Spesialis sih enak, sekali konsultasi narik ratusan ribu, la yang dokter umum ini…

Terakhir, saya katakan: saya gak anti ‘anti puyer‘.  saya makai puyer tapi tidak selalu,  saya tahu ada bahayanya seperti tindakan profesi kedokteran yang lain. tapi saya punya pertimbangan berdasarkan keilmuan yang saya punya.  Kalau memasng mau dilarang, saya nunggu IDI, IDAI, perubahan kurikulum farmasi, untuk mengatakan “JANGAN MEMAKAI PUYER”,

bukan RCTI, bukan produsen syrup, bukan dokter anti puyer saja, bukan orang awam.

APAKAH SEJAWAT SETUJU?

Iklan

3 Responses to PUYER? polemik atau politik?

  1. Dokter Bangkit kepancing juga emosinya 😀
    Bagaimana dokter yang lain ????

  2. Putu Gede Sudira berkata:

    quote
    cuma 2, obat HIV dan …(saya lupa)

    obat HIV dan obat TB.
    ambil jalan tengahnya, disiplinkan lagi si pembuat puyer. kontrol tingkat kehighienisannya, sekali muyer di trochar, lalu cuci dan lap bersih, cuci tangan sebelum dan setelah muyer.
    untuk yg meresepkan puyer, jangan pernah meresepkan puyer untuk tablet salut selaput. harga diri kita sebagai dokter dipertaruhkan.malu sama farmasist nya.
    untuk pasien, di awal ditanya dulu, mau puyer atau sirup. utamakan dari segi harga.toh manfaatnya sama.akhirnya, biar konsumen yang milih.

  3. drbangkit berkata:

    @ Putu Gede Sudira
    makasih ngelengkapin.
    quote
    untuk pasien, di awal ditanya dulu, mau puyer atau sirup. utamakan dari segi harga.toh manfaatnya sama.akhirnya, biar konsumen yang milih.
    –>setuju banget.
    salah satu SpA ditempat saya disiplin banget dalam pemakaian obat,terutama antibiotik. Beliau kalau memang harus memakai puyer, mencegah polifarmasi. kalo muyerin antihistamin sendiri muyerin antipiretik sendiri, gak dicampur. mungkin ini cara yang paling bijaksana dalam keadaan sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: