Obat atau Racun

Februari 24, 2009

Masih ingat serial ‘Jewel In The Palace’ ?ceritanya tentang perjalanan hidup Jang Geum seorang koki istana di korea zaman dahulu yang kemudian jadi perawat/ tabib wanita.

salah satu adegan yang paling saya suka adalah ketika Jang Geum diuji oleh Profesor Shin (benar ya ejaannya?).  Pertanyaan ujiannya adalah: Tuliskan jenis racun sebanyak-banyaknya dan jenis obat sebanyak-banyaknya!. Maka ditulislah oleh Jang Geum banyak sekali jenis racun dan obat yang dihafalnya. hal yang tak sulit mengingat dia sangat jenius dan mempunyai kemampuan hafalan yang tinggi. Dia juga sudah banyak membaca buku kedokteran sebelumnya.

hasil ujiannya dia malah tidak lulus, orang yang paling sedikit hafalannya malah dapat nilai tertinggi.  si Jang Geum bingung, kenapa?

ternyata, Sang Profesor ingin mengingatkan si Jang Geum agar tidak sombong.  dengan kualitas IQnya yang tinggi, kemampuan hafalan yang hebat, dia lulus terbaik pada ujian sebelumnya.  tapi dia jadi sombong.   Dan masalah obat dan racun, tidak ada obat yang bisa dikatakan sebagai obat saja, dan begitu pula tidak ada racun yang bisa dikatakan sebagai jenis racun saja.  Yang dikatakan obat bisa menjadi racun pada saat lain. tergantung pemakaiannya, kasus pasiennya, dan banyak variabel lain.  Jang Geum yang paling banyak mengisi malah tidak lulus, sedang yang paling sedikit mengisi malah lulus.

Banyak sekali hikmah dalam kisah ini, terutama buat kita para praktisi kesehatan.

Jangan sombong, kesembuhan bukan dari kamu, tapi dari yang Allah Maha Menyembuhkan.

Obat dan racun batasnya bisa sangat tipis, tergantung pemakaiannya.  Contohnya:Paracetamol bukan cuma OBAT panas, dia bisa jadi RACUN bagi orang yang punya gangguan pada liver.

Jadi bukan cuma menghafal indikasi salah satu obat, tapi juga kontra indikasinya, efek sampingnya, apa yang harus diperhatikan.  Mau dipakai jadi obat atau jadi racun, kita yang nentukan.

Dan kemudian Si Jang Geum yang jenius itu belajar lagi.  Bagaimana dengan kita? Ayo belajar lagi,…

quote lain dari Prof Shin yang saya suka: “dokter hebat bukan dokter yang pandai tapi dokter yang besar (jiwanya)”…(agak lupa-lupa pasnya)…

Iklan

PUYER? polemik atau politik?

Februari 22, 2009

Puyer? Polemik atau politik?

bagi saya ini cuma isu politik,yang tidak perlu dipolemikkan ke masyarakat.

3 minggu ini 3 hari sekali di setiap acara beritanya RCTI memberitakan tentang puyer. isinya tentang bahaya puyer. awalnya diberi judul bahaya puyer, dan kemudian diganti menjadi polemik puyer.  Dengan alasan tidak membuat masyarakat bingung. tapi toh, masyarakat sudah jadi bingung, opini publik sudah terbentuk, bahwa puyer memang bahaya.

terus, apa memang puyer perlu dipolemikkan?

ya, tapi TIDAK di media massa.  Ini adalah isu ilmiah, dan orang yang terlibat harusnya cukuplah dari kalangan ilmiah, bukan dari masyarakat awam.   Perbincangan ilmiah tidak pada tempatnya mengajak masyarakat awam, karena akan membuat kebingungan, polemik, dan kerusakan yang lebih besar.

Bahwa puyer memang ada bahayanya, dokter mana sih yang gak tahu? semuanya sudah diajarkan di kurikulum farmakologi, tapi toh kita diajarkan bagaimana agar manfaatnya didapat maksimal dengan resiko seminimal mungkin.  dalam semua tindakan kedokteran kita mendapat permasalahan yang sama, dan disitulah “seni” kita dalam memaksimalkan manfaat dan resiko seminim mungkin.  saya lulus tahun 2006, dan masih mendapat kurikulum membuat puyer.

kalau memang puyer akan dihapus, bukan dengan melempar isu ini ke media massa dan masyarakat awam sebagai konsumer. konsumer akan bingung, bisa-bisa kejadian orang awam menuntut dokter malprakktek karena diberi puyer

Para dokter dan praktisi kesehatan sebagai pelaku yang harus diajak diskusi, dengan jurnal, tulisan ilmiah, pertemuan ilmiah, perubahan kurikulum farmasi (tidak mengajarkan puyer lagi di kuliah).  Perkumpulan profesi IDI, IDAI, mengeluarkan rekomendasi.

Langkah-langkah seperti ini yang harus ditempuh, memang lama, tapi aman, tanpa gonjang-ganjing, tanpa masyarakat bingung.

Lalu, yang sekarang ini polemik atau politik?

Bagi saya POLITIK. Frekuensi penayangan yang sangat tinggi,biayanya jelas besar. Terus,  ini titipan siapa?siapa yang mendanai?siapa yang mendapat keuntungan?

–>Pabrikan obat, produsen syrup. ( cuma ini yang terpikir. ada tersangka lain?)

berkata dokter anti puyer: saat ini obat apa sih yang gak ada sediaan syrupnya? cuma 2, obat HIV dan …(saya lupa)

Lha, sekarang dokter anti puyer ini pernah turun ke puskesmas gak? coba cari sirup antihistamin, coba cari sirup anti alergi, dan beberapa obat dasar lain. ada gak?  kalau obat itu ada, berapa sih harga obat syrup? 20-30 rb an, itu yang standar. Kalau ngelarang kasih solusi dong.

juga dikatakan, penyakit anak itu sebagian besar sembuh sendiri, jadi sebenernya gak usah dikasih obat.  Pasien berkunjung seharusnya untuk konsultasi.

Pikir saya: Terus kalau pasiennya cm datang konsultasi, mending pasien banyak saya kumpulin semua untuk disuluh bersama-sama. Spesialis sih enak, sekali konsultasi narik ratusan ribu, la yang dokter umum ini…

Terakhir, saya katakan: saya gak anti ‘anti puyer‘.  saya makai puyer tapi tidak selalu,  saya tahu ada bahayanya seperti tindakan profesi kedokteran yang lain. tapi saya punya pertimbangan berdasarkan keilmuan yang saya punya.  Kalau memasng mau dilarang, saya nunggu IDI, IDAI, perubahan kurikulum farmasi, untuk mengatakan “JANGAN MEMAKAI PUYER”,

bukan RCTI, bukan produsen syrup, bukan dokter anti puyer saja, bukan orang awam.

APAKAH SEJAWAT SETUJU?


DIALOG PEMUDA ATHEIS

Februari 1, 2009
Seorang pemuda atheis mencari seorang guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda: Apakah anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab
pertanyaan anda
Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja
tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya
Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang
dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka
memiliki unsur yang sama.
Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.
Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3
buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya
Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit
Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda: Ya
Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda: Saya tidak bisa
Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan
keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda: Tidak
Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan
dari saya hari ini?
Pemuda: Tidak
Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir
Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda: kulit
Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda: kulit
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda: sakit
kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api,
Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan
untuk syeitan.

(c) Hak cipta 2008 – Hatibening.com